Kecaman WHO Kepada Negara Kaya Terkait Vaksin 

Kecaman WHO Kepada Negara Kaya Terkait Vaksin 

Kecaman WHO Kepada Negara Kaya Terkait Vaksin – Menanggapi virus covid-19 yang sedang marak di seluruh dunia, maka seluruh negara yang terpapar tentunya membutuhkan vaksin untuk memperkecil skala terpapar virus covid-19 ini.

Direktur Jenderal World Health Organization (Dirjen WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, geram karena upaya negara-negara kaya dalam mengamankan stok vaksin COVID-19 telah mengganggu skema COVAX.

COVAX merupakan instrumen yang didukung oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) http://162.214.117.184/ untuk menjamin  negara-negara miskin memiliki akses terhadap vaksin corona. Namun, realita yang terjadi menunjukkan, ketika beberapa negara maju sedang mempersiapkan vaksinasi untuk suntikan kedua, banyak negara miskin yang bahkan belum menerima stok untuk dosis pertama.

Tedros memohon agar negara-negara kaya memperhatikan kuantitas dosis yang tersedia saat menjalin komitmen dengan produsen vaksin. Sebab, dia menekankan, vaksinasi hanya bisa sukses membendung pandemik jika dilakukan secara global dan merata.

1. Stok vaksin ada tapi dibeli dalam jumlah besar oleh negara kaya

Dalam konferensi pers yang juga dihadiri Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier, mantan Menteri Kesehatan Ethiopia itu menyampaikan, sebenarnya jumlah vaksin yang tersedia cukup untuk menjangkau negara-negara miskin.

Dia meminta agar negara-negara kaya bekerja sama untuk mensukseskan skema COVAX, dengan cara tidak memborong vaksin dalam jumlah besar atau tidak mendistribusikan kepada negara mitra secara sepihak.

“Ini bukan soal amal. Ini masalah epidemiologi. Kita tidak akan bisa mengakhiri pandemik, kecuali harus mengakhirinya di semua tempat,” kata Tedros pada Senin (21/2/2021) dari Markas WHO di Genewa, dilansir dari VOA News, Selasa (22/2/2021).

2. Negara-negara Eropa telah berkomitmen mensukseskan COVAX

Menambahkan keterangan Tedros, Presiden Frank-Walter mengatakan bahwa negara-negara Eropa siap mendukung program vaksinasi global WHO, dengan memberi bantuan finansial. Sebagian dari mereka juga mempertimbangkan kembali keputusan untuk mendistribusikan vaksin di luar skema COVAX.

Sebelumnya, anggota G7 pada Jumat (19/2/2021) menyepakati sumbangan dana sebesar 7,5 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp105,7 triliun untuk membantu program COVAX.

“Bahkan jika anda memiliki uang, anda belum tentu dapat menggunakan itu untuk membeli vaksin. Memiliki uang menjadi tidak berarti apa-apa,” kata Frank-Walter, menekankan betapa pentingnya ketersediaan vaksin, dikutip dari Al Jazeera.

Pada kesempatan yang sama, Tedros juga menekankan pentingnya menggunakan setiap kesempatan untuk meningkatkan produksi vaksin. “Semakin meningkat produksi, maka ada semakin banyak volume (vaksin) yang bisa dibagikan,” kata dia.

Frank-Walter menyambung, vaksin saat ini adalah komoditas langka yang dicari oleh seluruh negara. Dia berharap, seluruh negara bisa mengedepankan persoalan kemanusiaan daripada kepentingan nasional. “Ini tidak mudah tetapi ini adalah masalah kemanusiaan,” kata kepala negara Jerman itu.

3. Pemerataan vaksin adalah kunci menghentikan pandemik

Sebelumnya, Sekjen PBB Antonio Guterres menyayangkan karena program COVAX tidak berjalan sebagaimana mestinya. Dia mengungkap data bahwa hanya 10 negara yang menguasai 75 persen dari ketersediaan vaksin global.

Menanggapi hal itu, Tedros menyebut kegagalan COVAX menandakan kegagalan moral global. Indonesia sebagai salah satu Co-Chair COVAX AMG EG juga mengingatkan supaya nasionalisme vaksin dihindari di tengah bencana kemanusiaan.

Related posts