Militer Indonesia Tahun 2019

Militer Indonesia Tahun 2019

Daftarnegaraterkuat.web.id – Calon presiden nomor 01 Joko “Jokowi” Widodo bersikeras meluruskan perbedaan dalam kinerja pertahanan dan keselamatan dengan saingannya, Prabowo Subianto, dalam debat pada Sabtu (30/3/2019) malam itu. Saat melakukan safari politiknya di Makassar, Sulawesi Selatan pada Minggu (31/3/2019), Jokowi kembali menekankan dukungan dan kepercayaannya, baik kepada Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Nasional Indonesia (Polri).

“Bahwa TNI/Polri adalah kekuatan besar. Perlu saya sampaikan, saya percaya 100 persen dengan TNI kita,” ujar Jokowi di hadapan ribuan pendukungnya yang berkumpul di Lapangan Karebosi, Kota Makassar, Minggu pagi.

Dalam argumennya, Jokowi berani menyatakan bahwa kekuatan militer Indonesia berada pada posisi pertama dibandingkan negara lain di kawasan ASEAN. Bahkan, Indonesia berhasil menduduki peringkat ke-15 dari 136 negara di dunia.

“Artinya, TNI kita ini kuat sekali. Jadi sekali lagi jangan ada yang meremehkan TNI kita, setuju?” ujar calon presiden petahana ini.

Jokowi memang mendapat tekanan cukup sengit saat berdebat dengan Prabowo terkait isu pertahanan dan keamanan. Prabowo kerap menegaskan bahwa kekuatan militer kita jauh tertinggal, diukur dari alat pertahanan hingga anggaran.

“Pak, diplomasi kalau senyum-senyum ya begitu-begitu saja. Kalau ada armada asing masuk ke laut kita, apa yang bisa kita buat? Bidang saya pertahanan dan keamanan. Saya tahu berapa jarak peluru tempur. Saya lebih TNI dari banyak TNI,” kata calon presiden nomor urut 02, malam itu.

Baca juga : Menurut AS Negara Tirai Bambu Sudah Siap Perang Dengan Taiwan

Pada satu sisi, Jokowi memang tak menampik bahwa prioritas alokasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) saat ini belum menyentuh pertahanan dan keamanan, melainkan masih dalam bidang infrastruktur disusul sumber daya manusia. Kendati begitu, anggaran untuk pertahanan yang dicatat Kementerian Keuangan untuk tahun 2019 pada dasarnya meningkat 0,74 persen ketimbang tahun sebelumnya. Adapun realisasi anggaran pada 2018 adalah sebesar Rp107,6 triliun, dan pada 2019 menjadi Rp108,4 triliun. Meski memang, anggaran untuk 2018 tercatat turun sekitar 10,3 persen dari tahun 2017. Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan, alokasi fungsi pertahanan terdiri atas pengadaan barang dan jasa militer, produksi alutsista industri dalam negeri dan pengembangan pinak industri pertahanan, penyelenggaraan perawatan personel matra darat, laut dan udara.

Pada saat Prabowo membalas argumen terkait anggaran pertahanan dengan membandingkan jumlah yang dialokasikan Singapura untuk sektor sama, sepintas dalihnya memang faktual. Sebab, anggaran Rp107,6 triliun yang dialokasikan Indonesia untuk pertahanan hanyalah 5 persen dari APBN dan/atau 0,8 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara, Singapura menganggarkan sekitar 30 persen dari APBNnya atau 3 persen dari PDB untuk anggaran pertahanannya. Tapi apakah proporsi tersebut mencerminkan kekuatan militer Indonesia yang kalah dari Singapura? Sejatinya tidak.

Sejalan dengan Global Fire Power, skor kekuatan militer Indonesia benar berada pada posisi pertama di ASEAN. Indonesia berhasil mengungguli Myanmar dan Filipina yang berturut-turut berada di posisi dua dan ketiga. Di tingkat global, militer Indonesia berada di peringkat ke-15 dari 136 negara yang memiliki kekuatan militer. Adapun skor kekuatan militer Indonesia secara keseluruhan adalah 0,284 dengan perincian skor 1 berarti semakin kuat dan skor 0 semakin lemah. Meski kekuatannya unggul, alat utama sistem pertahanan Indonesia memang tak berada di pucuk tertinggi dibandingkan negara ASEAN lainnya.

Seperti misalnya kekuatan tempur TNI Angkatan Udara (AU). Indonesia tercatat masih kalah dengan Thailand dalam hal jumlah pesawat tempur, yakni 568 berbanding 451. Posisi itu pun membuat Indonesia berada di peringkat kedua dalam hal kekuatan tempur AU. Kekuatan alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia antara lain terdiri atas kendaraan tempur lapis baja (armored fighting vehicle) sebanyak 1.131 buah. Kemudian, disusul bandara yang beroperasi (673 buah), tank tempur (418 buah), dan artileri tarik (356 buah). Sementara dari sisi personelnya, jumlah TNI tahun 2018 baik yang aktif dan cadangan mencapai 975.750 anggota. Sejak tahun 2016 jumlah TNI terus mengalami kenaikan. Namun, jumlah ini diestimasi menurun pada tahun 2019 menjadi 800.000 anggota. Sementara itu, menurut laporan tahunan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), jumlah anggota pada tahun 2018 sebanyak 443.379 orang atau meningkat 0,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Jumlah Polri pun terus meningkat sejak tahun 2016 hingga 2018.

Related posts